Archipelagotimes.com – Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, memiliki kawasan hutan mangrove yang sangat luas. Namun, banyak dari kawasan ini belum terpantau secara menyeluruh. Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengembangkan metode baru berbasis teknologi drone untuk memetakan dan menilai keanekaragaman hayati mangrove secara cepat dan akurat.
Dalam forum Oceanography Biweekly Meeting (OBM) yang digelar daring pada Senin (26/5), Yaya Ihya Ulumuddin, peneliti dari Pusat Riset Oseanografi BRIN, menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk membantu LSM dan institusi konservasi lainnya menilai keberhasilan program pelestarian mangrove yang telah berjalan.
“Kami mengembangkan alat asesmen kuantitatif berbasis drone dengan sensor LiDAR dan kamera multispektral. Ini memungkinkan pemantauan vegetasi mangrove dari udara, mencakup area luas, dan dalam waktu relatif singkat,” ujar Yaya.
Teknologi ini menghasilkan dua jenis data utama: diversitas spektral dan diversitas struktural. Diversitas spektral memetakan variasi jenis vegetasi berdasarkan pantulan cahaya yang khas dari tiap spesies. Sementara itu, diversitas struktural memberikan gambaran fisik hutan seperti kerapatan tajuk dan tinggi vegetasi.
Kedua jenis data ini digabungkan dalam satu parameter yang disebut Mangrove Biodiversity Index (BI). Indeks ini tak hanya menggambarkan status keanekaragaman hayati di suatu lokasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis faktor lingkungan lain—seperti tingkat genangan berdasarkan elevasi tanah.
“Jika BI rendah di area yang sering tergenang, kita bisa tahu bahwa itu bukan karena degradasi biologis, tapi karena kondisi fisik yang ekstrem,” jelas Yaya.
Lebih dari sekadar alat pemantauan, indeks ini juga dapat dijadikan sistem peringatan dini dalam kerangka DPSIR (Driving Forces, Pressures, State, Impacts, Responses)—kerangka kerja yang lazim digunakan dalam pemantauan ekosistem secara holistik.
Tak berhenti sampai di situ, tim peneliti BRIN membuka peluang pengembangan metode lebih lanjut. Mereka tengah menjajaki integrasi data drone dengan citra satelit dan kecerdasan buatan (AI), serta memperluas riset ke ekosistem pesisir lain seperti padang lamun dan terumbu karang.
“Kami juga mempertimbangkan untuk mendeteksi spesies baru secara otomatis, bahkan menghitung fauna kecil yang tinggal di hutan mangrove menggunakan teknologi vision-based AI,” tambahnya.
Inovasi ini menandai babak baru dalam konservasi berbasis teknologi tinggi. Harapannya, pendekatan ini bisa direplikasi di seluruh wilayah pesisir Indonesia—membuka jalan bagi konservasi yang lebih terukur, presisi, dan berdampak jangka panjang.