Archipelagotimes.com – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Timur (PERMAINTI) mengecam keras pemberitaan yang menyatakan bahwa mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) di Yogyakarta mendukung eksplorasi panas bumi (geotermal) di Flores.
Ketua Umum PERMAINTI, Tan Alin, menyatakan bahwa informasi tersebut merupakan kebohongan publik dan menyesatkan. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas artikel berjudul “Flores Simpan Emas Energi: Mahasiswa NTT di Yogyakarta Dorong Geotermal untuk Kedaulatan Energi” yang dimuat di laman krjogja.com pada Minggu, 15 Juni 2025.
“Kami menyatakan secara tegas: klaim tersebut adalah kebohongan publik. Tidak ada satu pun forum resmi mahasiswa NTT di Yogyakarta yang menyatakan dukungan penuh terhadap eksploitasi geotermal di Flores,” ujar Tan Alin dalam pernyataan persnya.
Ia menambahkan, PERMAINTI mencurigai adanya kepentingan tertentu di balik klaim tersebut, yang melibatkan individu atau kelompok yang membawa nama mahasiswa NTT tanpa persetujuan.
“Kami mencium adanya pola manipulatif yang dibalut dalam narasi kedaulatan energi. Namun di balik itu, tersimpan agenda kolonialisasi sumber daya dan marginalisasi masyarakat adat,” lanjutnya.
PERMAINTI Soroti Dampak Negatif Geotermal
Tan Alin juga menyinggung berbagai kajian akademik yang menunjukkan dampak negatif eksplorasi geotermal, terutama di kawasan timur Indonesia. Menurutnya, proyek-proyek tersebut sering kali mengabaikan aspek ekologis dan sosial yang berdampak langsung pada warga setempat.
“Studi dalam Geothermal Energy and Environment (2022) mengungkapkan bahwa eksploitasi geotermal dapat menyebabkan perubahan struktur tanah, pencemaran air tanah akibat bahan kimia bor, serta meningkatkan risiko gempa bumi mikro (microseismic),” jelasnya.
Ia juga mengkritisi proses perencanaan proyek yang kerap mengecualikan partisipasi masyarakat adat, yang selama ini menjaga kelestarian tanah secara turun-temurun.
“Tidak ada yang namanya kedaulatan energi jika rakyat justru diusir dari tanahnya. Ini bukan kemajuan, melainkan bentuk baru dari kolonialisasi,” tegasnya.
PERMAINTI Desak Klarifikasi dan Tanggung Jawab
Atas pemberitaan yang dinilai menyesatkan tersebut, PERMAINTI mendesak pihak penyelenggara seminar dan media untuk segera memberikan klarifikasi terbuka dan permintaan maaf secara resmi.
Tan Alin menegaskan, PERMAINTI akan terus menyuarakan isu-isu strategis terkait hak hidup masyarakat Indonesia Timur dan menentang segala bentuk eksploitasi yang dibungkus retorika pembangunan.