NASIONAL

Rudy Tuankotta: Hilirisasi Sagu, Peluang Ekonomi Maluku yang Harus Didukung

×

Rudy Tuankotta: Hilirisasi Sagu, Peluang Ekonomi Maluku yang Harus Didukung

Sebarkan artikel ini
Hilirisasi Sagu
Gambar Bupati SBT & Sagu (Ist).

Archipelagotimes.com – Rudy Tuankotta, tokoh muda asal Maluku yang kini tinggal di Jakarta, menyampaikan keheranannya terhadap kritik yang datang dari sejumlah mahasiswa mengenai program hilirisasi sagu yang digagas oleh Bupati Seram Bagian Timur (SBT). Baginya, kebijakan tersebut justru membuka peluang besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Maluku dan memperkenalkan identitas daerah ke kancah global.

“Jujur, saya bukan orang dengan pendidikan tinggi. Tapi saya tahu banget kalau sagu itu lebih dari sekadar komoditas, itu identitas kita, orang Maluku. Saya bingung, kok ada mahasiswa yang sudah S2, S3, malah nggak bisa lihat peluang ekonomi yang datang dari hilirisasi sagu. Itu sangat disayangkan,” kata Rudy, Jumat (29/8/2025).

Menurutnya, kritik terhadap kebijakan publik itu wajar saja, asalkan didasarkan pada data dan pengetahuan yang mendalam. Bukan hanya sekadar pernyataan tanpa dasar yang bisa merusak esensi dari tujuan besar hilirisasi itu sendiri.

Hilirisasi sagu, lanjut Rudy, bukan hanya tentang mengolah sagu jadi produk pangan yang lebih bernilai. Tapi ini juga tentang menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi dan kebijakan pembangunan yang lebih maju. Melalui hilirisasi, sagu bisa diolah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi tinggi, mulai dari tepung sagu, pakan ternak, bioetanol, hingga berbagai jenis makanan modern yang bisa menembus pasar domestik dan internasional.

Selain memberikan keuntungan ekonomi, sagu juga punya banyak keuntungan ekologis. Tanaman ini lebih tahan terhadap perubahan iklim, tidak membutuhkan banyak air dibandingkan dengan padi atau jagung, dan sangat cocok ditanam di Maluku. Karena itu, hilirisasi sagu sejalan dengan tren global yang mengutamakan pangan berkelanjutan (sustainable food), sekaligus bisa menjadi solusi untuk mengatasi krisis pangan dunia.

“Kalau program ini berhasil, petani di desa bakal lebih sejahtera, peluang kerja akan terbuka luas, dan Maluku bisa punya posisi penting di peta pangan nasional. Jadi, mari kita berdiskusi dengan kepala dingin, nggak perlu langsung menolak tanpa pemahaman yang jelas,” tutup Rudy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *