Archipelagotimes.com - Indonesia masih menyandang status sebagai negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Namun, di balik kebanggaan tersebut, ancaman terhadap kelestarian hutan mangrove masih terus membayangi berbagai wilayah pesisir. Alih fungsi lahan, ekspansi kawasan industri, pembangunan pesisir yang tidak terkendali, tambak, pencemaran, hingga lemahnya pengawasan menjadi tantangan serius yang harus dihadapi pemerintah bersama masyarakat.
Data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,44 juta hektare hutan mangrove, atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia. Posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemilik kawasan mangrove terbesar di dunia sekaligus memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.
KLH juga telah meluncurkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2024 sebagai dasar penyusunan kebijakan konservasi berbasis data. Peta tersebut memuat informasi mengenai lokasi, luas, hingga kondisi mangrove di seluruh Indonesia sehingga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas perlindungan dan rehabilitasi kawasan pesisir.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ancaman terhadap mangrove belum berakhir. Dalam empat dekade terakhir, Indonesia diperkirakan telah kehilangan lebih dari satu juta hektare hutan mangrove akibat konversi lahan menjadi tambak, permukiman, kawasan industri, infrastruktur pesisir, serta dampak abrasi. Kehilangan tersebut tidak hanya merusak habitat satwa, tetapi juga mengurangi kemampuan alam menyerap karbon dan melindungi garis pantai dari gelombang besar.
Mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat vital. Selain menjadi tempat berkembang biaknya ikan, kepiting, udang, dan berbagai biota laut lainnya, hutan mangrove juga mampu menyerap karbon beberapa kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Ekosistem ini menjadi benteng alami dalam menghadapi perubahan iklim, kenaikan muka air laut, tsunami, maupun abrasi.
Menteri Lingkungan Hidup melalui berbagai kesempatan pada tahun 2025 menegaskan bahwa perlindungan mangrove merupakan bagian penting dari strategi nasional pengendalian perubahan iklim. Pemerintah bahkan terus mendorong kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat pesisir dalam upaya rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan.
Meski demikian, tantangan di tingkat daerah masih cukup kompleks. Masih ditemukan praktik pembukaan lahan pesisir tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Di sejumlah wilayah, mangrove ditebang untuk perluasan tambak maupun pembangunan kawasan wisata. Aktivitas tersebut menyebabkan rusaknya habitat alami berbagai spesies serta meningkatkan risiko abrasi yang berdampak langsung terhadap permukiman masyarakat.
Selain faktor manusia, perubahan iklim juga memperburuk kondisi mangrove. Naiknya permukaan air laut, perubahan pola arus, cuaca ekstrem, hingga sedimentasi berlebihan membuat banyak kawasan mangrove mengalami degradasi. Kondisi ini diperparah apabila tidak diimbangi dengan rehabilitasi yang tepat dan pengawasan yang konsisten.
Sebagai langkah strategis, pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan melalui pemutakhiran data nasional, penguatan regulasi, serta peningkatan rehabilitasi kawasan yang rusak. Dengan basis data yang lebih akurat, pemerintah berharap setiap program konservasi dapat tepat sasaran dan mampu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.
Pelestarian mangrove tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan konservasi. Edukasi lingkungan, pengawasan berbasis komunitas, pengembangan ekowisata yang berkelanjutan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan hutan mangrove.
Di tengah ancaman yang masih menghantui, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi contoh dunia dalam pengelolaan mangrove. Dengan luas kawasan mencapai sekitar 3,44 juta hektare, didukung kebijakan berbasis data dan partisipasi masyarakat, pelestarian mangrove bukan hanya menjaga lingkungan hidup, tetapi juga melindungi masa depan ekonomi, ketahanan pesisir, serta keselamatan generasi mendatang.
Salam Lestari (RedaksiAT).
