
Gambar Ilustrasi (AI)
Archipelagotimes.com - Negara-negara Asia Tenggara memperkuat upaya rehabilitasi mangrove melalui implementasi ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Management 2024 - 2030, sebuah strategi regional yang menjadi pedoman bersama dalam konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan. Strategi tersebut menempatkan mangrove sebagai ekosistem prioritas karena kemampuannya menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan serta melindungi kawasan pesisir dari abrasi, badai, dan kenaikan muka air laut.
Asia Tenggara memiliki posisi strategis dalam konservasi mangrove dunia. Kawasan ini menampung sekitar sepertiga dari luas hutan mangrove global, menjadikannya pusat keanekaragaman hayati sekaligus penyimpan karbon biru (blue carbon) yang sangat penting. Namun, tekanan akibat alih fungsi lahan, pembangunan pesisir, akuakultur, dan perubahan iklim terus mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut. Untuk menjawab tantangan itu, ASEAN membentuk ASEAN Mangrove Network (AMNET) sebagai wadah kolaborasi antarnegara dalam pertukaran data, praktik terbaik, penguatan kapasitas, dan harmonisasi kebijakan rehabilitasi mangrove.
Implementasi strategi regional semakin diperkuat melalui penyusunan pedoman pelaksanaan yang dibahas dalam forum multipihak di Jakarta pada Juni 2025. Forum tersebut melibatkan pemerintah negara anggota ASEAN, Sekretariat ASEAN, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas pesisir, dan mitra pembangunan internasional. Lima prinsip utama menjadi dasar pelaksanaan strategi, yaitu integrasi ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan iklim melalui solusi berbasis alam, kolaborasi regional, serta pengembangan inovasi dan pembiayaan, termasuk pemanfaatan pasar karbon biru (blue carbon market).
Para ahli menilai keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari keberhasilan memulihkan fungsi ekologis kawasan pesisir. Oleh karena itu, strategi ASEAN menekankan pentingnya pemulihan hidrologi, perlindungan habitat alami, pemantauan berbasis teknologi, serta keterlibatan masyarakat sebagai pengelola utama. Pendekatan berbasis ekologi ini dinilai mampu meningkatkan tingkat keberhasilan restorasi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui perikanan berkelanjutan, ekowisata, dan pemanfaatan produk turunan mangrove.
Ke depan, implementasi Strategi ASEAN 2024–2030 diharapkan menjadi acuan bagi negara-negara Asia Tenggara dalam memenuhi target konservasi keanekaragaman hayati dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Dengan memperkuat kolaborasi lintas negara, meningkatkan investasi pada rehabilitasi berbasis sains, dan memperluas pembiayaan karbon biru, Asia Tenggara berpeluang mempertahankan posisinya sebagai kawasan terdepan dalam perlindungan mangrove dunia sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target iklim global dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).