Belanda Kembangkan Teknologi Nature-Based Solutionsuntuk Restorasi Mangrove Dunia
Lebih kecil
Bawaan
Lebih besar
Bagikan:
Archipelagotimes.com - Belanda memperkuat posisinya sebagai salah satu pelopor pengembangan teknologi Nature-Based Solutions (NbS) untuk rehabilitasi mangrove melalui pendekatan Building with Nature yang dikembangkan oleh konsorsium EcoShape, Deltares, Wageningen University & Research, TU Delft, dan sejumlah mitra internasional. Pendekatan ini menggabungkan rekayasa pesisir dengan proses alami untuk memulihkan ekosistem mangrove tanpa bergantung pada penanaman bibit secara besar-besaran. Model tersebut telah diterapkan di Indonesia dan menjadi rujukan bagi berbagai proyek restorasi pesisir di Asia dan kawasan tropis lainnya.
Berbeda dengan metode konvensional yang menitikberatkan pada penanaman pohon, teknologi Building with Naturememulihkan terlebih dahulu kondisi fisik kawasan pesisir. Tim peneliti membangun struktur permeabel dari bahan alami, seperti bambu dan ranting, yang berfungsi memperlambat energi gelombang dan menangkap sedimen. Setelah dasar pantai kembali stabil, propagul mangrove tumbuh secara alami sehingga tingkat keberhasilan rehabilitasi meningkat. Menurut Deltares, pendekatan tersebut memungkinkan regenerasi mangrove berlangsung secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kemampuan kawasan pesisir beradaptasi terhadap kenaikan muka air laut.
Implementasi terbesar pendekatan ini dilakukan di pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang selama bertahun-tahun mengalami abrasi parah akibat hilangnya sabuk hijau mangrove, penurunan muka tanah, dan perubahan tata guna lahan. Program Building with Nature Indonesia menargetkan perlindungan sekitar 70.000 penduduk dari ancaman banjir rob dan abrasi, sekaligus mendorong pemulihan sekitar 6.000 hektare tambak yang mengalami degradasi melalui pengelolaan pesisir yang lebih berkelanjutan. Program ini juga memperkenalkan sistem silvofishery, pelatihan masyarakat, serta penguatan tata kelola pesisir berbasis komunitas.
Keberhasilan proyek di Indonesia mendorong replikasi pendekatan tersebut di sejumlah negara tropis, termasuk Bangladesh dan Myanmar. Berbagai lembaga internasional menilai konsep Building with Nature sebagai contoh nyata penerapan solusi berbasis alam yang mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi secara bersamaan. Selain memulihkan mangrove, pendekatan ini juga meningkatkan produktivitas perikanan, mengurangi biaya pembangunan infrastruktur pantai, serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Pada 2024, inisiatif ini bahkan diakui sebagai salah satu proyek unggulan dalam UN Decade on Ecosystem Restoration karena keberhasilannya memulihkan garis pantai melalui proses alami.
Pakar pesisir menilai inovasi Belanda menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove tidak cukup dilakukan dengan penanaman pohon semata, melainkan harus diawali dengan pemulihan proses ekologis yang mendukung pertumbuhan alami mangrove. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, rekayasa adaptif, dan partisipasi masyarakat dinilai mampu menghasilkan restorasi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun ekonomi pesisir. Seiring meningkatnya kebutuhan restorasi mangrove secara global, pengalaman Belanda melalui Building with Nature diperkirakan akan menjadi salah satu referensi utama dalam pengembangan kebijakan rehabilitasi pesisir di berbagai negara tropis.