Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove

Gambar Ilustrasi (AI).

Archipelagotimes.com
- Konsorsium ilmuwan dari Eropa dan Asia Tenggara memperkuat kerja sama dalam pengembangan standar ilmiah rehabilitasi mangrove melalui proyek RESCuE-2 (Monitoring & Optimization of Mangrove Restoration for Sustainable Management of Coastal Ecosystems in Southeast Asia). Proyek ini didanai oleh SEA-Europe Joint Funding Scheme (JFS) dan bertujuan menyusun kerangka berbasis sains (science-based framework) untuk meningkatkan keberhasilan restorasi mangrove di kawasan Asia Tenggara. Program tersebut mengintegrasikan pemantauan ekologi, penginderaan jauh (remote sensing), pemodelan spasial, serta keterlibatan masyarakat dalam mendukung ketahanan ekosistem pesisir menghadapi perubahan iklim.

RESCuE-2 dipimpin oleh Prof. Dr. Uta Berger dari Technical University Dresden, Jerman, dengan melibatkan peneliti dari Belgia, Prancis, Italia, Swiss, Thailand, Malaysia, dan Kamboja. Konsorsium ini juga menggandeng lembaga pemerintah dan universitas di Asia Tenggara untuk memastikan hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung pada program rehabilitasi mangrove di lapangan. Selain memperkuat kolaborasi ilmiah lintas kawasan, proyek ini menargetkan peningkatan kapasitas peneliti muda melalui pertukaran pengetahuan dan pelatihan bersama antara Eropa dan ASEAN.

Dalam pelaksanaannya, RESCuE-2 mengembangkan metode rehabilitasi yang melampaui pendekatan penanaman monokultur yang selama ini dinilai kurang efektif memulihkan fungsi ekologis mangrove. Tim peneliti memanfaatkan teknologi GIS, citra satelit, survei lapangan, serta model simulasi seperti BETTINA dan MANGA untuk memantau dinamika pertumbuhan mangrove, mengevaluasi efektivitas restorasi, dan mengidentifikasi lokasi rehabilitasi yang paling sesuai. Pendekatan multidisiplin ini diharapkan menghasilkan standar restorasi yang lebih adaptif terhadap kondisi hidrologi, keanekaragaman hayati, dan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

Sebagai bagian dari implementasi proyek, para peneliti juga melakukan kunjungan lapangan di lokasi penelitian di Provinsi Phang Nga dan Trat (Thailand) serta Peam Krasop (Kamboja). Kegiatan tersebut bertujuan mengumpulkan data biofisik, memahami persepsi masyarakat terhadap rehabilitasi mangrove, serta membangun mekanisme alih pengetahuan jangka panjang antara lembaga penelitian, otoritas kehutanan, dan komunitas lokal. Hasil kajian lapangan akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan restorasi mangrove yang dapat diterapkan pada tingkat nasional maupun regional di Asia Tenggara.

Melalui proyek yang berdurasi hingga 36 bulan, RESCuE-2 diharapkan menghasilkan pedoman ilmiah baru bagi rehabilitasi mangrove yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Luaran proyek tidak hanya berupa publikasi ilmiah, tetapi juga rekomendasi kebijakan, metode pemantauan restorasi berbasis teknologi, serta model kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat. Para peneliti menilai pendekatan berbasis bukti ini akan memperkuat upaya negara-negara Asia Tenggara dalam melindungi ekosistem mangrove sebagai penyerap karbon alami sekaligus benteng pertahanan pesisir terhadap dampak perubahan iklim.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
  • Proyek RESCuE-2 Satukan Ilmuwan Eropa dan Asia Tenggara Kembangkan Standar Ilmiah Rehabilitasi Mangrove
Posting Komentar