
Gambar Ilustrasi (AI).
Archipelagotimes.com - Sebuah studi ilmiah internasional yang dipublikasikan pada 2025 mengungkap bahwa dunia memerlukan investasi sekitar US$10,73 miliar untuk merestorasi 1,10 juta hektare hutan mangrove yang dinilai layak dipulihkan secara ekologis. Penelitian tersebut merupakan pemodelan spasial pertama yang menghitung biaya implementasi restorasi mangrove pada skala global dengan menganalisis 249 proyek restorasi di 25 negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove berpotensi menghilangkan hingga 0,93 gigaton (Gt) karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer sehingga menjadi salah satu solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) yang paling kompetitif dalam mendukung pencapaian target iklim global.
Penelitian tersebut menemukan bahwa biaya restorasi sangat bervariasi bergantung pada kondisi biofisik, tingkat kerusakan, karakteristik pesisir, dan tingkat pembangunan ekonomi suatu negara. Rata-rata biaya pengurangan emisi melalui restorasi mangrove diperkirakan sekitar US$11,49 per ton CO₂, angka yang dinilai kompetitif dibandingkan berbagai skema mitigasi emisi lainnya. Biaya implementasi cenderung lebih rendah pada proyek berskala besar, kawasan bekas tambak, dan wilayah delta, namun meningkat pada lokasi pantai terbuka yang mengalami abrasi berat atau di negara dengan biaya tenaga kerja dan logistik yang tinggi.
Selain manfaat iklim, studi tersebut menegaskan bahwa investasi restorasi mangrove menghasilkan manfaat ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar penyerapan karbon. Pemulihan mangrove mampu meningkatkan produktivitas perikanan pesisir, melindungi permukiman dari abrasi dan gelombang badai, memperbaiki kualitas air, mendukung sektor pariwisata berbasis alam, serta menjaga habitat berbagai spesies penting. Dalam banyak kasus, nilai ekonomi jasa ekosistem yang dihasilkan selama umur restorasi diperkirakan melampaui biaya awal investasi, terutama ketika manfaat perlindungan pantai dan peningkatan mata pencaharian masyarakat turut diperhitungkan.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa keberhasilan restorasi tidak cukup hanya mengandalkan penanaman bibit. Banyak proyek gagal karena mengabaikan pemulihan hidrologi, kondisi sedimen, dan keterlibatan masyarakat lokal. Oleh sebab itu, kebijakan restorasi perlu mengutamakan pendekatan berbasis ekologi, didukung pemetaan spasial, pemantauan jangka panjang, serta integrasi dengan mekanisme pembiayaan karbon dan perencanaan tata ruang pesisir. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan program penanaman massal yang tidak mempertimbangkan karakteristik ekosistem setempat.
Hasil studi ini memberikan implikasi penting bagi pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi internasional dalam menyusun strategi investasi restorasi mangrove. Temuan tersebut memperkuat berbagai inisiatif global, termasuk Mangrove Breakthrough, yang menargetkan mobilisasi US$4 miliar untuk melindungi dan merestorasi 15 juta hektare mangrove hingga 2030. Dengan dasar ilmiah mengenai kebutuhan biaya, manfaat ekonomi, dan potensi penyerapan karbon, penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam merancang kebijakan restorasi yang lebih efektif, terukur, dan menarik bagi investor publik maupun swasta.