
Gambar Ilustrasi (AI)
Archipelagotimes.com - Uni Eropa (UE) dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memperkuat kemitraan dalam rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai bagian dari upaya bersama menghadapi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, dan meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir. Komitmen tersebut ditandai dengan penyelenggaraan EU–ASEAN Mangrove Planting Event di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Jakarta, pada 13 November 2025, yang merupakan bagian dari rangkaian EU Green Diplomacy Weeks 2025 in ASEAN. Kegiatan ini dihadiri para duta besar negara anggota Uni Eropa, perwakilan negara-negara ASEAN, pemerintah Indonesia, serta organisasi lingkungan hidup.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta melakukan penanaman mangrove secara simbolis sekaligus menegaskan pentingnya kerja sama lintas kawasan dalam melindungi ekosistem pesisir. Delegasi Uni Eropa menyatakan bahwa rehabilitasi mangrove merupakan salah satu solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) yang efektif untuk menyerap karbon, mengurangi risiko abrasi pantai, dan meningkatkan ketahanan terhadap kenaikan muka air laut. Inisiatif ini juga menjadi implementasi nyata dari Kemitraan Strategis UE–ASEAN dalam bidang aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diperkuat oleh penerapan ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Managementyang diadopsi pada 2024 dan mulai diimplementasikan pada 2025. Strategi regional ini menjadi pedoman bagi sepuluh negara anggota ASEAN dalam mempercepat konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan. Dokumen tersebut menekankan penguatan riset ilmiah, peningkatan kapasitas masyarakat pesisir, pemanfaatan teknologi pemantauan, serta perluasan kerja sama dengan mitra internasional, termasuk Uni Eropa.
ASEAN sendiri merupakan kawasan dengan sekitar sepertiga luas hutan mangrove dunia, sehingga memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim global. Mangrove di kawasan ini mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut, serta menopang mata pencaharian jutaan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, dukungan Uni Eropa tidak hanya difokuskan pada kegiatan penanaman, tetapi juga pada penguatan tata kelola, penelitian ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kebijakan berbasis bukti agar rehabilitasi mangrove memberikan manfaat jangka panjang.
Pengamat lingkungan menilai kemitraan UE–ASEAN menunjukkan bahwa perlindungan mangrove telah berkembang menjadi agenda internasional yang menghubungkan kepentingan iklim, ekonomi, dan konservasi keanekaragaman hayati. Melalui sinergi pendanaan, diplomasi lingkungan, dan kolaborasi ilmiah, kedua kawasan diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekosistem pesisir sekaligus mendukung pencapaian target global dalam Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework dan agenda pembangunan berkelanjutan hingga 2030.