Uni Eropa Perkuat Investasi Global untuk Rehabilitasi Mangrove melalui Skema Global Gateway
Lebih kecil
Bawaan
Lebih besar
Bagikan:
Gambar Ilustrasi (AI).
Archipelagotimes.com - Uni Eropa memperkuat komitmennya terhadap rehabilitasi mangrove dan ekosistem pesisir melalui strategi investasi Global Gateway, yang menjadi instrumen utama kerja sama pembangunan berkelanjutan di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara. Hingga 2025, strategi tersebut telah menetapkan puluhan proyek unggulan di bidang iklim, energi, keanekaragaman hayati, dan pengelolaan sumber daya alam. Sejak diluncurkan pada 2021, Global Gateway berhasil memobilisasi lebih dari €306 miliar untuk proyek-proyek pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia, dengan sebagian di antaranya mendukung restorasi ekosistem pesisir dan penguatan ketahanan iklim.
Salah satu implementasi nyata dilakukan melalui kerja sama antara Uni Eropa dan Agence Française de Développement (AFD) di Indonesia. Pada Maret 2025, kedua pihak meluncurkan hibah baru untuk memperkuat pengelolaan laut berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengumpulan data biodiversitas laut dan iklim, serta restorasi ekosistem pesisir, termasuk kawasan mangrove. Program tersebut dirancang untuk dilaksanakan selama lima tahun sebagai bagian dari penguatan tata kelola sumber daya kelautan berbasis ilmu pengetahuan.
Selain investasi fisik, Uni Eropa mendorong pendekatan Nature-based Solutions (NbS) sebagai fondasi kebijakan adaptasi perubahan iklim. Dalam berbagai kemitraan dengan negara-negara ASEAN, rehabilitasi mangrove dipandang sebagai solusi yang mampu memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kapasitas penyerapan karbon, melindungi garis pantai dari abrasi dan badai, serta menjaga habitat perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari implementasi target Perjanjian Paris dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.
Menurut Komisi Eropa, Global Gateway tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan tata kelola, penelitian, inovasi, dan transfer teknologi. Oleh karena itu, investasi diarahkan untuk menghasilkan manfaat jangka panjang melalui peningkatan kapasitas institusi, pengembangan sistem pemantauan lingkungan, serta dukungan terhadap kebijakan konservasi berbasis bukti ilmiah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas rehabilitasi mangrove di negara-negara mitra sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Pengamat lingkungan menilai bahwa keterlibatan Uni Eropa melalui Global Gateway menunjukkan perubahan paradigma pendanaan internasional dari sekadar proyek konservasi menjadi investasi pembangunan hijau (green investment). Dengan dukungan pembiayaan, teknologi, dan kolaborasi ilmiah, negara-negara mitra memiliki peluang lebih besar untuk mempercepat rehabilitasi mangrove secara terukur dan berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi Uni Eropa sebagai salah satu aktor utama dalam pendanaan konservasi ekosistem pesisir di tingkat global.