Ist
Penulis : Vivi (Suka Traveling)
Archipelagotimes.com - Wisata kuliner kini menjadi salah satu sektor paling dinamis dalam industri pariwisata global. Indonesia dengan keragaman makanannya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kuliner dunia.
Lonjakan wisatawan domestik hingga 1,20 miliar perjalanan pada 2025 menunjukkan bahwa kuliner menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Dari sisi kesehatan, wisata kuliner dapat menjadi sarana edukasi gizi jika diarahkan dengan benar. Kuliner tradisional Indonesia kaya akan rempah yang memiliki manfaat kesehatan.
Namun, di sisi lain, tren makanan cepat saji dalam wisata kuliner juga meningkatkan risiko penyakit seperti obesitas dan diabetes.
Dari aspek ekonomi, kuliner merupakan sektor inklusif. UMKM menjadi tulang punggung, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Masalah utama adalah standar higienitas yang belum merata. Banyak destinasi kuliner belum memenuhi standar kesehatan global.
Selain itu, kurangnya branding kuliner Indonesia di kancah internasional membuat potensi besar ini belum maksimal.
Solusinya adalah sertifikasi higienitas nasional dan promosi kuliner berbasis digital global.
Kolaborasi antara chef, pemerintah, dan pelaku UMKM juga penting untuk meningkatkan daya saing kuliner Indonesia.
Jika dikelola serius, wisata kuliner bisa menjadi kekuatan diplomasi budaya sekaligus penggerak ekonomi nasional.
