Archipelagotimes.com - Perdagangan maritim global memasuki fase yang semakin strategis sepanjang 2025-2026 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, ancaman keamanan laut, dan transformasi menuju pelayaran rendah emisi. Lebih dari 80% volume perdagangan barang dunia diangkut melalui jalur laut, menjadikan sektor maritim sebagai tulang punggung rantai pasok internasional. Kawasan Asia menjadi pusat aktivitas tersebut, di mana sekitar 60% perdagangan maritim dunia melintas dan sepertiga pelayaran global melewati Laut China Selatan.
Selat Malaka tetap menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Data Reuters pada 2026 mencatat bahwa lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025. Jalur sepanjang sekitar 900 kilometer ini mengangkut hampir 22% perdagangan global dan sekitar 29% perdagangan minyak dunia melalui laut. Posisi strategis tersebut menjadikan Selat Malaka sebagai chokepoint utama yang sangat menentukan stabilitas ekonomi internasional, termasuk bagi Indonesia sebagai negara pesisir utama.
Di sisi lain, tantangan keamanan maritim kembali meningkat. Laporan International Maritime Bureau (IMB)menunjukkan terdapat 137 insiden pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal selama 2025, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sementara laporan tahunan International Maritime Organization (IMO) mencatat 171 insiden pembajakan dan perampokan terhadap kapal pada 2025 atau naik sekitar 17%. Peningkatan terbesar terjadi di kawasan Selat Malaka dan Singapura, yang kembali menjadi perhatian komunitas pelayaran internasional.
Selain ancaman keamanan, industri pelayaran juga menghadapi tekanan untuk menekan emisi karbon. Laporan UNCTAD Review of Maritime Transport 2025 menegaskan bahwa transformasi menuju pelayaran hijau menjadi prioritas utama setelah IMO memperkuat kebijakan dekarbonisasi sektor maritim. Regulasi baru tersebut mendorong perusahaan pelayaran melakukan investasi pada kapal hemat energi, bahan bakar alternatif, hingga digitalisasi pelabuhan guna menjaga daya saing di tengah meningkatnya tuntutan lingkungan global.
Bagi Indonesia, dinamika tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, memperkuat konektivitas logistik nasional, serta mengembangkan ekonomi maritim yang berkelanjutan. Penguatan armada penjaga laut, modernisasi pelabuhan, dan diplomasi maritim diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia di tengah perubahan lanskap geopolitik global. (RAT).
