Archipelagotimes.com - Pencemaran plastik di lautan terus meningkat dan menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir maupun kehidupan laut. United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan lebih dari 11 juta ton sampah plastik masuk ke lautan setiap tahun. Tanpa intervensi yang signifikan, jumlah tersebut diproyeksikan dapat meningkat hampir tiga kali lipat pada 2040. Tahun 2025 menjadi momentum penting karena negara-negara dunia terus merundingkan Global Plastics Treaty untuk menekan produksi dan pencemaran plastik.
Indonesia termasuk negara yang aktif mengurangi sampah plastik melalui berbagai kebijakan nasional. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat produksi sampah nasional mencapai lebih dari 69 juta ton per tahun, dengan plastik menyumbang sekitar 18 - 20 persen dari total sampah. Sebagian besar sampah plastik berasal dari kawasan perkotaan, aktivitas rumah tangga, perdagangan, serta sektor pariwisata.
Dampak pencemaran plastik tidak hanya terlihat di permukaan laut. Penelitian yang dipublikasikan oleh UNEP dan berbagai lembaga ilmiah menunjukkan mikroplastik kini telah ditemukan di air minum, ikan konsumsi, garam laut, bahkan tubuh manusia. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang meskipun penelitian mengenai dampaknya masih terus berkembang.
Di sektor ekonomi, pencemaran plastik juga menyebabkan kerugian besar. Industri perikanan, pariwisata, dan transportasi laut harus menanggung biaya tambahan akibat sampah yang mencemari pesisir. OECD memperkirakan biaya ekonomi akibat pencemaran plastik mencapai miliaran dolar AS setiap tahun. Di Indonesia, kawasan wisata pantai dan ekosistem mangrove menjadi lokasi yang paling rentan terdampak akumulasi sampah plastik.
Berbagai solusi mulai diterapkan, mulai dari pengurangan plastik sekali pakai, peningkatan sistem daur ulang, ekonomi sirkular, hingga edukasi masyarakat. Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan sampah laut secara signifikan melalui penguatan pengelolaan sampah nasional. Para pakar menilai keberhasilan mengurangi pencemaran plastik bergantung pada kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan masyarakat. (RAT)
.png)