Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe

Ist

Archipelagotimes.com
 - Jelang sore, Alun-alun Aimas di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, perlahan berubah menjadi ruang hidup bagi masyarakat. Anak-anak berlarian di lintasan pejalan kaki, para remaja berkumpul menikmati senja, sementara sejumlah warga memanfaatkan area tersebut untuk berolahraga atau sekadar melepas penat setelah seharian bekerja.

Di tengah keramaian itu, aroma kopi yang baru diseduh perlahan menyebar mengikuti embusan angin. Harum khas biji kopi pegunungan Papua menjadi penanda sebuah kedai mungil berbentuk kontainer yang berdiri di salah satu sudut alun-alun. Kedai itu bernama Masasoya Cafe, sebuah usaha yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menghadirkan ruang untuk berbincang, bertukar gagasan, hingga memperkenalkan kekayaan kopi Papua kepada masyarakat.

Di balik usaha tersebut berdiri sosok Meilona Sadury Binar Pustaka  (37). Di siang hari, ia dikenal sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. Namun ketika jam kerja usai, ia berganti peran menjadi seorang barista sekaligus pemilik usaha yang dengan sabar meracik secangkir demi secangkir kopi bagi para pelanggannya.

Perjalanan itu dimulai pada Oktober 2025. Saat itu Meilona memutuskan mengubah kecintaannya terhadap kopi menjadi sebuah usaha yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

"Banyak orang menikmati kopi hanya untuk menghilangkan rasa lelah atau menemani pekerjaan. Bagi saya, kopi lebih dari itu. Saya jatuh cinta pada aroma, rasa, dan cerita panjang di balik setiap biji kopi yang berasal dari tanah Papua," ujarnya kepada media Minggu (2/8/2026).

Menurut Meilona, ide membangun Masasoya Cafe lahir dari keinginan sederhana, yakni menghadirkan ruang terbuka yang nyaman bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang.

Ia ingin mahasiswa dapat berdiskusi, komunitas dapat berkumpul, keluarga dapat menikmati waktu bersama, dan wisatawan memiliki tempat untuk mengenal kopi Papua.

"Impian saya bukan sekadar membuka warung kopi. Saya ingin menciptakan ruang yang membuat orang merasa diterima, nyaman, dan bisa berbagi cerita sambil menikmati kopi Papua," katanya.

Memulai dari Nol dengan Modal Pribadi

Tidak ada investor besar ataupun pinjaman usaha yang menopang langkah awal Masasoya Cafe.

Semua dimulai dari tabungan pribadi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Sebelum membuka kedai, Meilona terlebih dahulu membeli sebuah kontainer yang kemudian disulap menjadi kafe berkonsep modern.

Kontainer tersebut dibayar secara bertahap sebanyak tiga kali karena keterbatasan modal.

"Saya memilih kontainer karena lebih praktis dan bisa didesain sesuai konsep yang saya inginkan. Saya ingin tampilannya sederhana tetapi estetik sehingga menarik perhatian masyarakat, khususnya anak-anak muda," tuturnya.

Setelah kontainer selesai dipasang, ia mulai melengkapi berbagai kebutuhan usaha, mulai dari mesin kopi, peralatan seduh, meja, kursi hingga pencahayaan agar suasana kedai terasa hangat pada malam hari.

Seluruh proses itu dikerjakan dengan penuh kesabaran karena hampir semuanya menggunakan biaya pribadi.

"Kalau mengingat prosesnya memang tidak mudah. Tetapi saya percaya kalau kita sungguh-sungguh memulai sesuatu, pasti ada jalan untuk berkembang," ujarnya.

Membawa Kopi Pegunungan Papua ke Tengah Kota

Salah satu alasan terbesar Meilona membuka Masasoya Cafe adalah keinginannya memperkenalkan kopi Papua kepada lebih banyak orang.

Karena itu, hampir seluruh menu kopi yang tersedia berasal dari berbagai daerah pegunungan di Tanah Papua.

Mulai dari Kopi Anggi, Kopi Arfak, Kopi Minyambouw, Kopi Wamena, Kopi Pegunungan Bintang, Kopi Lanny Jaya, hingga Kopi Yahukimo, omenjadi andalan kedainya.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakter rasa yang unik karena dipengaruhi oleh ketinggian tempat, jenis tanah, hingga cara petani merawat tanaman kopi.

"Ada kopi yang aroma bunganya lebih terasa, ada yang memiliki rasa cokelat, ada yang sedikit manis alami. Itulah kekayaan kopi Papua yang ingin saya perkenalkan kepada masyarakat," katanya.

Ia menilai kopi Papua memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan kopi dari berbagai daerah lain di Indonesia.

Namun, promosi terhadap kopi lokal masih perlu terus ditingkatkan agar semakin dikenal masyarakat luas.

Persaingan Menjadi Motivasi untuk Terus Berkembang

Membuka usaha di kawasan Alun-alun Aimas berarti harus siap bersaing dengan banyak pelaku usaha lain.

Di lokasi tersebut terdapat berbagai warung kopi tradisional, kedai modern, hingga pedagang kaki lima yang menawarkan minuman serupa.

Namun Meilona tidak melihat persaingan sebagai ancaman.

Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan.

"Kami belajar bagaimana menyambut pelanggan dengan ramah, menjaga cita rasa kopi tetap konsisten, mempercepat penyajian, dan menyediakan tempat yang bersih serta nyaman," ujarnya.

Masasoya Cafe beroperasi setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIT.

Ketika terdapat kegiatan masyarakat, festival, atau acara pemerintah di kawasan alun-alun, jam operasional akan disesuaikan agar dapat melayani lebih banyak pengunjung.

Menjalani Dua Dunia Sekaligus

Membagi waktu antara pekerjaan sebagai ASN dan mengelola usaha tentu bukan perkara mudah.

Setelah menyelesaikan tugas di kantor, Meilona hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat.

Ia langsung menuju Masasoya Cafe untuk menyiapkan seluruh kebutuhan operasional sebelum pelanggan mulai berdatangan.

Meski melelahkan, ia mengaku menikmati setiap prosesnya.

Dalam sehari, kedainya mampu menjual sekitar 20 hingga 30 gelas kopi, dengan harga berkisar Rp10.000 hingga Rp12.000 per cangkir.

Menurutnya, hasil tersebut memang belum menjadikan dirinya sebagai pengusaha besar.

Namun, ia bersyukur usaha itu mampu membantu perekonomian keluarga sekaligus membuka peluang baru untuk memperkenalkan produk lokal Papua.

 Pelanggan dari Berbagai Kalangan

Selama hampir sepuluh bulan beroperasi, Masasoya Cafe telah dikunjungi berbagai kalangan.

Mahasiswa menjadi pelanggan yang paling sering datang.

Selain itu, aktivis, komunitas, pekerja, tokoh adat, hingga pejabat Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Sorong juga pernah menikmati kopi di kedai tersebut.

Bahkan beberapa tamu dari luar Papua sengaja datang setelah mengetahui Masasoya Cafe menyajikan kopi asli dari berbagai daerah di Tanah Papua.

Menurut Meilona, pelanggan yang datang bukan hanya membeli kopi, tetapi juga membawa cerita dan pengalaman masing-masing.

Hal itu membuat suasana kedai terasa seperti rumah kedua bagi banyak orang.

Menjaga Semangat Meski Pernah Ingin Menyerah

Di balik senyum yang selalu ia berikan kepada pelanggan, Meilona mengaku pernah mengalami masa-masa sulit.

Keterbatasan tenaga kerja membuat hampir semua pekerjaan harus ia lakukan sendiri, mulai dari menyiapkan bahan, meracik minuman, melayani pelanggan, hingga membersihkan kedai setelah tutup.

Belum lagi tantangan menghadapi pelanggan dengan berbagai karakter.

"Capek tentu ada. Pernah merasa stres juga. Tetapi setiap kali ingin menyerah saya selalu mengingat alasan pertama membangun usaha ini," katanya.

Dukungan keluarga menjadi sumber semangat terbesar yang membuatnya mampu bertahan hingga hari ini.

Mengolah Ampas Kopi Menjadi Produk Baru

Tidak berhenti pada penyajian kopi, Meilona mulai memanfaatkan ampas kopi menjadi lulur alami untuk perawatan kulit.

Menurutnya, ampas kopi masih memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat sehingga dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Langkah tersebut juga menjadi bentuk kepeduliannya terhadap pengelolaan limbah agar lebih ramah lingkungan.

Mimpi Membuka Lapangan Kerja

Meilona berharap suatu hari nanti Masasoya Cafe dapat berkembang menjadi kedai yang lebih besar.

Ia ingin memperluas tempat usaha agar mampu menampung lebih banyak pelanggan sekaligus membuka kesempatan kerja bagi generasi muda Papua.

"Saya ingin anak-anak muda Papua ikut tumbuh bersama. Kalau usaha ini berkembang, saya ingin mereka menjadi bagian dari tim sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan keluarga saya, tetapi juga masyarakat sekitar," ujarnya.

Di akhir perbincangan, Meilona menyampaikan pesan kepada perempuan muda yang bercita-cita membangun usaha sendiri.

"Jangan takut memulai dari bawah. Tekad, kerja keras, dan ketekunan adalah modal paling penting. Kalau kita percaya pada proses, hasilnya akan mengikuti," katanya.

Bagi Meilona, secangkir kopi bukan hanya tentang rasa.

Di balik setiap tegukan terdapat perjalanan panjang para petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan biji kopi berkualitas.

"Karena itu, setiap cangkir kopi yang kami sajikan adalah bentuk penghargaan kepada para petani, sekaligus wujud kecintaan kami terhadap produk lokal Papua. Saya ingin aroma kopi Papua terus hidup dan dikenal semakin luas, dimulai dari sudut kecil di Alun-alun Aimas ini," pungkasnya.

(Penulis Eskop Wisabla)

Also Read
Tag:
Latest News
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
  • Hidupkan Aroma Kopi Papua di Alun-alun Aimas, Perjalanan Meilona Membangun Masasoya Cafe
Post a Comment