![]() |
| Nelson Mandela |
Pada 1952, Mandela menjadi salah satu pemimpin Defiance Campaign, yaitu gerakan pembangkangan sipil terhadap hukum-hukum diskriminatif.
Perjuangan Mandela berlangsung sangat panjang dan penuh risiko. Ia dipenjara selama puluhan tahun, tetapi penahanan tersebut tidak membuat gagasan mengenai kesetaraan hilang. Mandela kemudian dibebaskan pada 11 Februari 1990 dan ikut dalam proses politik yang membawa Afrika Selatan menuju pemilu demokratis pada 1994. Ia kemudian menjadi presiden demokratis pertama Afrika Selatan.
Kata inspirasi Mandela : “Saya menghargai cita-cita masyarakat yang demokratis dan bebas, tempat semua orang hidup bersama dalam keharmonisan dan kesempatan yang setara.”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Mandela bukan sekadar mengganti siapa yang berkuasa. Tujuan utamanya adalah menciptakan masyarakat yang lebih adil dan menolak dominasi berdasarkan ras.
Hal yang paling penting dari Mandela adalah kemampuannya melihat perjuangan sebagai proses jangka panjang. Ia mengalami penjara, kehilangan kesempatan hidup bersama keluarga, dan menghadapi tekanan politik yang sangat besar. Namun, ia tetap mempertahankan tujuan politiknya.
Nelson Mandela Foundation juga menekankan komitmennya terhadap demokrasi, kesetaraan, dan pendidikan.
Indonesia pada 2026 juga membutuhkan semangat melawan diskriminasi. Meskipun Indonesia telah mengalami perkembangan demokrasi sejak Reformasi 1998, masih terdapat tantangan berupa diskriminasi, kekerasan terhadap kelompok minoritas, korupsi, konflik Papua, serta persoalan penggunaan hukum tertentu yang dapat memengaruhi kebebasan sipil.
Pelajaran Mandela bagi masyarakat Indonesia adalah bahwa persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan justru berarti mampu hidup bersama di tengah perbedaan agama, suku, bahasa, pilihan politik, kondisi ekonomi, dan identitas sosial.
Seorang pejuang sosial harus berani membela kelompok yang lemah tanpa menjadikan perjuangannya sebagai alasan untuk menindas kelompok lain.
Kesimpulannya, Mandela mengajarkan bahwa perjuangan sosial harus memiliki visi tentang masyarakat seperti apa yang ingin dibangun. Indonesia tidak hanya membutuhkan masyarakat yang mampu memprotes ketidakadilan, tetapi juga masyarakat yang mampu membangun dialog, menghormati perbedaan, dan menciptakan kesempatan yang lebih setara. Kata kunci warisan Mandela adalah kesetaraan, rekonsiliasi, keberanian, dan demokrasi. (AT).
