![]() |
| Ilustrasi |
| Oleh : Abdullah Kelrey - Founder Nusa Ina Connection (NIC) |
Archipelagotimes.com - Dalam dinamika kehidupan modern yang semakin dipengaruhi oleh arus informasi tanpa batas, kualitas berpikir manusia menjadi penentu utama arah peradaban. Kita hidup di zaman ketika setiap orang dapat berbicara, berpendapat, dan bereaksi dalam hitungan detik. Namun, tidak semua pembicaraan memiliki bobot yang sama. Apa yang kita bicarakan sesungguhnya mencerminkan di mana posisi kita dalam tangga kesadaran intelektual.
Gagasan klasik yang sering dikaitkan dengan Socrates bahwa ada pembagian pembicaraan antara orang, peristiwa, dan ide menjadi semakin relevan di era digital ini. Meskipun mungkin bukan kutipan literal, esensinya menggambarkan realitas sosial kita hari ini dengan sangat tepat.
Pada level paling bawah, pembicaraan berfokus pada orang gosip, konflik personal, dan kekurangan individu. Di era media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X, kita menyaksikan bagaimana konten semacam ini menjadi konsumsi massal. Drama antar figur publik, konflik selebritas, hingga kehidupan pribadi seseorang sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan isu-isu strategis yang berdampak luas. Fenomena ini bukan hanya soal hiburan; ini mencerminkan bagaimana energi kolektif masyarakat banyak terserap pada hal-hal yang tidak produktif.
Lebih dari itu, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain menunjukkan stagnasi dalam berpikir. Individu pada level ini cenderung reaktif, emosional, dan tidak berorientasi pada solusi. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya menghambat pertumbuhan pribadi, tetapi juga memperlemah kualitas diskursus publik.
Naik ke level menengah, kita menemukan pembicaraan tentang peristiwa dan fakta. Di sini, masyarakat mulai menunjukkan kesadaran terhadap realitas yang lebih luas. Diskusi mengenai isu ekonomi, politik, teknologi, atau lingkungan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, seringkali bersumber dari media seperti BBC News atau Kompas. Ini adalah tahap di mana logika mulai berperan, dan individu tidak lagi sekadar bereaksi, tetapi mencoba memahami.
Namun demikian, level ini masih memiliki keterbatasan. Banyak orang berhenti pada tahap mengetahui dan menganalisis tanpa melangkah ke tahap solusi. Misalnya, kita sering melihat diskusi panjang tentang perkembangan kecerdasan buatan seperti ChatGPT, tetapi sedikit yang benar-benar membahas bagaimana mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut. Dengan kata lain, mereka memahami dunia, tetapi belum tentu mampu mengubahnya.
Level tertinggi adalah pembicaraan tentang ide, gagasan, dan visi. Inilah ranah para pemikir besar, inovator, dan agen perubahan. Individu pada level ini tidak hanya bertanya “apa yang terjadi”, tetapi juga “apa yang bisa kita lakukan” dan “bagaimana masa depan seharusnya dibentuk”. Tokoh-tokoh seperti Elon Musk dan Satya Nadella menjadi contoh bagaimana ide dapat menggerakkan perubahan nyata dalam skala global.
Dalam konteks Indonesia, lahirnya inovasi seperti Gojek menunjukkan bahwa solusi besar berawal dari pembicaraan level atas: bagaimana menyelesaikan masalah transportasi, efisiensi, dan akses layanan bagi masyarakat luas. Ini adalah bukti bahwa ide bukan sekadar wacana, tetapi fondasi perubahan.
Jika kita melihat dari perspektif perkembangan kognitif yang diperkenalkan oleh Benjamin Bloom, maka pembagian ini semakin jelas. Level bawah berkaitan dengan menghafal dan memahami secara dangkal. Level menengah mencakup kemampuan menerapkan dan menganalisis. Sementara level atas adalah kemampuan mengevaluasi dan menciptakan dua kemampuan tertinggi yang menentukan kualitas kepemimpinan dan inovasi.
Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah kurangnya informasi, melainkan kurangnya kedalaman dalam memproses informasi tersebut. Algoritma media sosial cenderung memperkuat apa yang kita konsumsi. Jika kita terbiasa dengan gosip, maka kita akan terus disuguhi gosip. Jika kita terbiasa dengan ide, maka dunia ide akan terbuka lebih luas.
Saya melihat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh level berpikir generasinya. Kita tidak bisa berharap pada kemajuan jika mayoritas energi masyarakat masih terjebak pada pembicaraan level bawah. Diperlukan kesadaran kolektif untuk menggeser fokus dari membicarakan orang, ke memahami peristiwa, hingga akhirnya menciptakan ide.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita masing-masing. Setiap percakapan adalah investasi, apakah kita ingin berinvestasi pada hal yang fana, atau pada gagasan yang mampu mengubah masa depan? Karena dari apa yang kita bicarakan hari ini, akan lahir realitas yang kita hidupi esok hari.
