![]() |
| Sumber Gambar : pixabay.com |
Archipelagotimes.com - Sebagian pihak berpendapat bahwa kesiapan menikah bukan hanya ditentukan oleh rasa cinta, tetapi juga kematangan emosi, finansial, pendidikan, dan kemampuan menyelesaikan konflik.
WHO menyebut remaja berusia 10 - 19 tahun sebagai kelompok yang masih berada dalam masa perkembangan biologis, psikologis, dan sosial sehingga pengambilan keputusan jangka panjang masih terus berkembang.
UNICEF juga menekankan bahwa investasi pada pendidikan, kesehatan mental, dan pengembangan keterampilan hidup akan membantu remaja memasuki masa dewasa dengan lebih siap.
Atas dasar itu, sebagian keluarga memilih melarang pacaran hingga anak memiliki kematangan emosional dan ekonomi yang lebih baik sebelum membangun hubungan serius.
Kesimpulannya, larangan pacaran dalam perspektif ini bukan dimaksudkan menolak cinta, melainkan mendorong generasi muda mempersiapkan diri agar mampu membangun hubungan yang sehat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan di masa depan.
