Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global

Muhammad Afandi : Direktur Eksekutif Pusat Kajian dan Studi Indonesia

Archipelagotimes.com

Direktur Eksekutif Pusat Kajian dan Studi Indonesia (PUSAKA INDONESIA), Muhammad Afandi, menegaskan bahwa budaya hemat BBM dan LPG merupakan strategi adaptif berbasis pengelolaan sisi konsumsi (demand-side management) di tengah ketidakpastian geopolitik global, Senin (30/03/2026).

Ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah kini memasuki fase kritis dan mulai memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas energi global. Kondisi ini mendorong pentingnya penguatan budaya hemat energi, khususnya dalam penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia.

Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut telah mengganggu rantai pasok energi dunia. Ancaman terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global menjadi faktor utama meningkatnya volatilitas harga energi.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi menghilangkan pasokan minyak global hingga 13 - 14 juta barel per hari, atau sekitar 12–13 persen dari total permintaan dunia yang melebihi 100 juta barel per hari. Situasi ini turut mendorong lonjakan harga minyak lebih dari 50 persen, bahkan berpotensi menembus kisaran USD 150–200 per barel dalam skenario terburuk.

Secara empiris, kajian ekonomi energi menunjukkan bahwa risiko geopolitik memiliki korelasi kuat terhadap gangguan perdagangan energi global, baik melalui penurunan volume ekspor maupun lonjakan harga akibat ketidakpastian pasar.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia menghadapi kerentanan yang cukup besar. Data menunjukkan sekitar 25 persen kebutuhan minyak mentah dan 30 persen LPG nasional masih dipasok dari kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak dunia di atas USD 100 per barel turut meningkatkan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui lonjakan subsidi energi yang dalam kondisi tertentu dapat mencapai ratusan triliun rupiah. Dampak lainnya meliputi peningkatan inflasi, pelemahan nilai tukar, serta kenaikan biaya produksi di berbagai sektor.

Dalam perspektif ketahanan energi, efisiensi konsumsi menjadi salah satu pilar utama selain diversifikasi sumber energi dan peningkatan produksi domestik. Pengurangan konsumsi melalui efisiensi dinilai mampu meredam tekanan permintaan, menstabilkan harga, serta mengurangi ketergantungan impor.

“Pendekatan ini telah terbukti efektif dalam berbagai krisis energi sebelumnya, termasuk krisis global pada 1970-an,” ujarnya.

Untuk memperkuat budaya hemat energi, terdapat sejumlah langkah yang dapat diterapkan:

Pada sektor transportasi, masyarakat didorong untuk mengoptimalkan penggunaan transportasi publik, berbagi kendaraan (carpooling), melakukan perawatan kendaraan secara rutin, serta mengurangi perjalanan tidak esensial melalui digitalisasi aktivitas.

Di sektor rumah tangga, efisiensi penggunaan LPG dapat dilakukan dengan mengatur penggunaan api kompor sesuai kebutuhan, memanfaatkan peralatan masak yang efisien, serta melakukan pemeriksaan rutin instalasi untuk mencegah kebocoran.

Sementara itu, sektor industri dan komersial dapat melakukan audit energi, mengadopsi teknologi hemat energi, serta beralih ke sumber energi alternatif seperti listrik atau energi terbarukan.

Penguatan budaya hemat energi dinilai membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Kebijakan insentif, edukasi publik berbasis sains, serta inovasi teknologi menjadi kunci dalam membangun sistem energi yang tangguh dan berkelanjutan.

“Di tengah ketidakpastian global, langkah kolektif dalam mengelola konsumsi energi secara bijak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan energi nasional,” tambahnya.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya berbasis bukti (evidence-based policy) guna meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya efisiensi energi sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global sekaligus fondasi menuju transisi energi berkelanjutan.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
  • Pusaka Indonesia : Budaya Hemat BBM dan LPG Jadi Kunci Hadapi Gejolak Energi Global
Posting Komentar